Ketika Mereka Membaca Al Quran

Para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Qur`an dengan menghadirkan hati, merenungi dan mengambil pelajaran dari ayat-ayatnya, hingga mengalirlah air mata mereka dan khusyuk hati mereka. Mereka mengangkat tangan mereka kepada Rabb mereka dengan menghinakan diri memohon kepada-Nya agar amal-amal mereka diterima dan berharap ampunan dari ketergelinciran mereka. Mereka merindukan kenikmatan nan abadi yang ada di sisi-Nya.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu seorang shahabat yang mulia, berkisah: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: ‘Bacakanlah Al-Qur`an untukku.’ Aku bertanya heran: ‘Wahai Rasulullah, apakah aku membacakan untukmu sementara Al-Qur`an itu diturunkan kepadamu?’ Beliau menjawab: ‘Iya, bacalah.’ Aku pun membaca surat An-Nisa` hingga sampai pada ayat:
“Maka bagaimanakah jika Kami mendatangkan seorang saksi bagi setiap umat dan Kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka itu.” (An-Nisa’: 41)

Beliau bersabda: ‘Cukuplah.’ Aku menengok ke arah beliau, ternyata aku dapati kedua mata beliau basah berlinang air mata.” [HR. Al-Bukhari no. 5050]

Diriwayatkan bahwasanya Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ketika masih di Makkah, membangun tempat shalat di halaman rumahnya. Beliau shalat di tempat tersebut dan membaca Al-Qur`an, hingga membuat wanita-wanita musyrikin dan anak-anak mereka berkumpul di sekitarnya karena heran dan takjub melihat apa yang dilakukan Abu Bakr. Sementara Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu adalah sosok insan yang sering menangis, tidak dapat menahan air matanya saat membaca Al-Qur`an [HR. Al-Bukhari no. 3905].

‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pun punya kisah. Beliau shalat mengimami manusia dan menangis saat membaca Al-Qur`an dalam shalatnya, hingga bacaannya terhenti dan isaknya terdengar sampai shaf ketiga di belakangnya. Beliau membaca ayat:
“Celakalah orang-orang yang berbuat curang.” Ketika sampai pada ayat:“Pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam.” Beliau menangis hingga terhenti bacaannya.

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang menangis karena membaca/mendengar bacaan Al-Qur`an ketika mengabarkan tentang para nabi dan para wali-Nya:“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur di atas wajah mereka sujud kepada Allah, seraya berkata: ‘Maha suci Rabb kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi’.” (Al-Isra`: 107-108)

“Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Ar-Rahman, mereka tersungkur dalam keadaan sujud dan menangis.” (Maryam: 58)

“Dan mereka menyungkur di atas wajah mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Al-Isra`: 109)

Abu Raja` berkata: “Aku pernah melihat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, di bawah kedua matanya ada garis semisal tali sandal yang usang karena sering dialiri air mata.” [Siyar A’lamin Nubala`, 3/352]

Wallahu a’lam

Sangat memprihatinkan jika pada masa kini Al Quran hanya sebagai hiasan di dinding, atau hanya sebagian kaligrafi pajangan, atau sekedar mahar menikah. Lantunan yang lembut itu kini hnya berfungsi untuk mengusir jin saja, yg terjkenal hanya surat yasin dan ayat kursi saja. Wallahu musta’an.

Saudaraku, belajar dari generasi terbaik ini marilah kita bersungguh-sungguh tilawah Al Quran di rumah kita, belajar mujahdah untuk menghabiskan 1 juz dalam sehari atau setengah juz dalam sehari. Cintailah Al Quran dan belejarlah engkau,w ahai saudaraku untuk menghafalnya. Setidaknya ada keinginan dan perjungan. Jika engkau mencintai Islam maka cintailah Al Quran.

Iklan
%d blogger menyukai ini: