Pondasi Tauhid Untuk Jauh Dari Kesyirikan

Diceritakan oleh Abu Waqid Al-Laitsi radhiallahu ‘anhu: “Kami pergi bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain dan kami adalah orang yang baru masuk Islam. Orang-orang musyrik memiliki pohon Sidrah, mereka i’tikaf padanya dan menggantungkan pedang-pedang mereka di atas pohon itu, yang disebut pohon Dzaatu Anwat.

Pada suatu hari kami melewati sebuah sidrah (pohon bidara) tersebut dan kami berkata: “Wahai Rasulullah, buatkanlah (tentukan) buat kami pohon tempat menggantung pedang-pedang kami sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwat.”

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allahu Akbar, sesungguhnya ini jalan orang-orang sebelum kalian dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (ucapan ini) sebagaimana ucapan bani Israil kepada Nabi Musa: ‘Buatkanlah untuk kami satu sesembahan (selain Allah) sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan!’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil.’ (Al-A’raf: 138). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian benar-benar akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi no. 2180 dan beliau mengatakan hadits ini hasan shahih)

Lihatlah generasi itu, generasi terbaik umat ini begitu cintanya mereka pada Rabbnya, namun mereka beruntung, saudaraku. Di sisi mereka ada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam yg menunjuki mereka ttg cara beribadah kepada Rabbnya. Yg mengajarkan mereka tentang tauhid, tentang syirik, dan lainnya.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh rahimahullah mengatakan: “Di dalam hadits ini ada beberapa faidah:
1. Setiap orang harus merasa takut dengan perbuatan syirik.
2. Terkadang seseorang menyangka bahwa sebuah perkara akan bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal perkara itu menjauhkan dirinya dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendekatkannya kepada murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada yang mengetahui hal ini melainkan orang-orang yang telah menyelami apa-apa yang terjadi di masa kini, khususnya apa yang dilakukan oleh para ulama dan ahli ibadah terhadap perbuatan para pengagung kuburan. Perilaku ini disebabkan adanya sifat berlebihan mereka (penyembah kubur, red) dalam menyikapi para penghuni kubur dengan memalingkan ibadah kepada mereka. Mereka menyangka berada di atas kebenaran padahal mereka di atas dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah.” (Fathul Majid hal. 165)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Betapa cepatnya orang-orang musyrik itu menjadikan sesembahan selain Allah dan bagaimanapun bentuk sesembahan tersebut. Mereka berkata: ‘Sesungguhnya batu, pohon, mata air bisa menerima setiap nadzar dan segala bentuk penyembahan lainnya.’ Padahal nadzar itu adalah ibadah dan qurbah (bentuk pendekatan diri) di mana setiap pelakunya bisa mendekatkan diri kepada-Nya.” (Ighatsatul Lahafan, 1/230)

Dari hadits-hadits dan ucapan ulama di atas jelas bahwa segala bentuk pengagungan kepada tempat atau pepohonan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sekarang ini termasuk daripada sunnah jahiliyah sekalipun nama dan lambangnya berbeda. Kekufuran itu adalah satu ajaran.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata: “Perbedaan nama tidak merubah hakikat.” (Fathul Majid: 165) Ucapan yang semakna telah dilontarkan oleh Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah di dalam kitabnya Thathhirul I’tiqad (hal. 20).

Wallahu a’lam.

Iklan
%d blogger menyukai ini: